Sumber foto: kabar24.bisnis.com
Poker Aku - Baru saja terpilih sebagai Presiden baru Iran, Ebrahim Raisi langsung membuat kubu Gedung Putih 'panas'. Sosok ultrakonservatif itu menang telak dalam pemilihan presiden dengan tingkat partisipasi pemilih terendah.
Diadaptasi dari situs VOA Indonesia, saat ditanya apakah akan bertemu dengan Presiden AS Joe Biden setelah resmi menjadi Presiden Iran, Raisi dengan tegas menjawab, "Tidak."
Jawaban itu tak membuat juru bicara Gedung Putih Jen Psaki ragu.
"Dalam pandangan kami, ada pengambil keputusan di Iran yang sampai sekarang tidak berubah, dia adalah Pemimpin Tertinggi Iran," katanya.
Pemimpin Tertinggi Iran yang dimaksud Psaki adalah Ayatollah Ali Khamenei. Siapapun yang menjabat sebagai presiden bertanggung jawab kepada pemimpin tertinggi negara.
AS dan lima negara lain sedang merundingkan persyaratan baru dari kesepakatan nuklir Iran 2015, tetapi Raisi mengatakan program rudal Iran "tidak dapat dinegosiasikan." Dia juga menyalahkan AS karena melanggar janji.
Raisi berkata, “Anda memiliki kewajiban untuk mencabut sanksi dan Anda tidakmelakukannya; kembali dan penuhi komitmen Anda. Dan untuk negara-negara Eropa, saya tidak berpikir mereka harus terus ditekan oleh kebijakan Amerika."
Psaki menyebut pernyataan itu sebagai gertakan politik dan mengatakan sanksi - yang diterapkan kembali oleh pemerintahan mantan Presiden Trump - adalah bagian dari diskusi untuk menghidupkan kembali perjanjian internasional.
Jen Psaki menambahkan, “Kami tentu memahami seperti yang telah kita lihat dari negosiasi sebelumnya bahwa akan ada berbagai retorika yang diluncurkan dalam menanggapi kebutuhan politik dalam negeri. Kami memahami itu, tetapi fokus kami tetap pada negosiasi yang kami harap akan terus berlanjut."
Raisi saat ini berada di bawah sanksi AS atas perannya sebagai tersangka dalam eksekusi ribuan tahanan politik pada tahun 1988, meskipun ia menggambarkan dirinya sebagai "pembela hak asasi manusia" pada konferensi pers.
Mantan tahanan Iraj Mesdaghi menyebut presiden terpilih, yang memegang posisi Hakim Agung Iran, memimpin "panel hukuman mati." "Dia memainkan peran yang sangat aktif dibandingkan dengan anggota komisi kematian lainnya," katanya.
Ketika VOA bertanya kepada juru bicara Gedung Putih Jen Psaki tentang sanksi terhadap presiden terpilih dan negaranya, Psaki menjawab, “Presiden baru tentu saja akan dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia di bawah pengawasannya. Ke depan, kami mendesak pemerintah Iran, terlepas dari siapa yang berkuasa, untuk membebaskan tahanan politik, meningkatkan hak asasi manusia dan kebebasan mendasar bagi semua warga Iran."
Raisi adalah anak didik pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pengamat memperkirakan dia tidak akan memerintah negaranya sendiri dan tantangan besar menantinya.
Farzaneh Roostaee, seorang jurnalis Iran di Stockholm, mengatakan, “Kepresidenan berada di luar kapasitasnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan krisis ekonomi Iran maupun JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Gabungan atau perjanjian nuklir Iran, red.), yang merupakan masalah yang sangat kompleks dan sulit, bahkan mungkin tidak dapat dipecahkan.”
Tidak ada yang tahu kapan enam kekuatan dunia – AS, Inggris, Rusia, Prancis, China, dan Jerman – akan bertemu lagi untuk membahas kesepakatan nuklir Iran. Penasihat keamanan nasional AS mengatakan masih ada kesenjangan yang lebar pada beberapa masalah utama.

Comments
Post a Comment